Kopdar Ceria di Surabaya

Oktober 4th, 2009 by antownisme
kopdar-sby

Lihat tuh, Qie. Ada yang memotret kita!!

Jauh hari saya sudah menyiapkan acara kopdar ini. Akhirnya disepakati bahwa pada hari kamis, 24 September 2009 kita ketemuan di Mall Cito-Surabaya. Targetan saya minimal bisa berjumpa dengan beberapa teman yang selama ini hanya kenal di dunia maya.

Saat hari H, ternyata yang datang lebih dari dugaan saya. Ada sekitar 9 orang (belum termasuk yang konfirmasi tidak bisa datang karena keperluan). Asyik!! yang pasti bakal tambah rame acaranya. Kopdar kali ini bener-bener seru dan gila. Betapa tidak, selain bisa ketemuan langsung sama adik kelas SMA yang juga saya kenal melalui blog, saya akhirnya juga bisa bisa berbisnis dengannya. Ha ha ha…

Semoga pertemuan kita ini bukan untuk sekali. Semoga silaturahim ini tetap terjaga sampai pada masanya. Acarapun berakhir dengan makan-makan dan foto bersama. Ceklik!!

Profesionalitas dan Loyalitas Saat Pesta Tujuh Belasan di Mata Pekerja Kreatif

Agustus 22nd, 2009 by antownisme

Bagaimanakah peran pekerja kreatif dalam merayakan pesta tujuh belasan? Tulisan ini mencoba mengetengahkan pandangan sederhana dari kacamata saya pribadi selaku ilustrator dan desainer grafis.  Hanya sekedar berbagi pengalaman saja ya.

Tradisi di kampung halaman saya, sebulan sebelum tujuh belasan biasanya disibukkan dengan pemasangan berbagai atribut. Mulai dari penggantian papan selamat datang di pintu masuk (gapura) kampung, sosialisasi tiang sekaligus benderanya di tiap rumah, dan lain sebagainya.

Hampir setiap tahun, saya yang saat itu masih duduk di bangku SMA biasanya kebagian tugas untuk membuat dekorasi papan selamat datang dan atau dekorasi panggung untuk malam puncak yang biasanya dilaksanakan akhir bulan itu. Warga turut membantu meramaikan kala saya musti begadang meski yang mereka lakukan sekedar menemani ngobrol ngalor ngidul. Atau mungkin cuma membantu menghabiskan hidangan gorengan jatah saya dari ibu-ibu sekitar. Hahaha…

Saya tidak  ada masalah dengan hal itu, yang penting malam itu saya tidak bekerja sendirian. Masalahnya kemudian adalah saya tidak terbiasa begadang ditemani rokok dan kopi (karena memang saya bukan perokok dan penikmat kopi). Jadi sebisa mungkin saya harus bisa menerima hidangan yang ada atau mungkin membeli sendiri beberapa jam sebelumnya. Teman paling setia saat itu adalah radio. Mungkin Anda bisa bayangkan musik apa yang saya perdengarkan saat itu? di tengah kampung gitu.

Secepatnya dalam menapaki proses pendewasaan diri itu saya dituntut untuk belajar memahami budaya dan karakteristik masyarakat. Begitu beragamnya karakter sehingga membutuhkan cara serta teknik yang berbeda-beda saat kita menjalin komunikasi dengan mereka. Ketidakpahaman mereka tentang seni atau dekorasi inilah yang membuat saya tertantang untuk memikirkan bagaimana caranya memberikan edukasi sembari saya harus berkreasi.

Malam kian larut. Pekerjaan yang harus dilakukan masih banyak. Tampak beberapa styrofoam belum dipotong dan diwarnai sementara warga yang tadinya menemani saya begadang mulai mengundurkan diri satu per satu. Kalau sudah begini biasanya mood mulai menurun, jenuh pun mulai menyerang.

Sebagai orang yang telah diberikan amanat oleh warga, maka saya harus bisa menyelesaikan pekerjaaan ini dengan cepat dan maksimal. Memang terkadang ini di luar logika, cukup mustahil menyelesaikan pekerjaan banyak hanya dalam waktu semalam. Untungnya di saat menjelang subuh itu biasanya ada satu atau dua teman yang masih setia. Biasanya mereka mau membantu apa saja selama mereka bisa lakukan.

Hemat saya, loyalitas kita sebagai pemuda memang harus senantiasa ditumbuhkembangkan dalam mengisi kemerdekaan. Saya berpikiran bahwa kita harus bersedia memberikan sesuatu kepada Negara atau jika dalam lingkup kecil sebut saja kampung atau mungkin desa dengan sesuatu yang kita miliki. Dalam konteks tujuh belasan ini, jika kita ada bakat membawakan acara maka jadilah MC saat lomba, jika kita suka mondar-mandir atau jika kita memiliki kendaraan maka jadilah sie transportasi, dan seterusnya.

Begitupula dengan apa yang saya alami pribadi. Jika saya hanya bisa menggambar maka konsekuensinya adalah saya harus bisa memberikan karya berupa gambar atau seni visual secara maksimal sesuai dengan jobdis atau amanat yang telah diberikan. Harus kita pahami bersama bahwa terkadang profesionalitas itu harus mengalah terhadap loyalitas. Supaya karya tidak mubadzir, maka sebaiknya karya tersebut diabadikan sebagai portofolio kita biar tidak terbuang percuma.

Itulah sedikit kisah dari pengalaman saya dalam mengisi tujuh belasan di kampung halaman beberapa tahun silam. Semoga bisa memberikan inspirasi bagi kita semua. Hidup Indonesia!!

Dita di Dunia Maya

Agustus 19th, 2009 by antownisme

Dalam dunia perbloggeran Indonesia, ada dua nama Dita yang cukup populer. Pertama Nonadita (Anandita Puspitasari) dari Bogor. Dan yang kedua, Dita_gigi (Dita Firdiana F) dari Jakarta. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan secara objektif sosok dita_gigi sebenarnya. Bersiap-siap ya, hehe…

dita

Dita di saat persiapan pembuatan video Indonesia Unite

Saya mengenal Dita secara tidak sengaja berkat kontes menulis yang pernah diadakan oleh Edy Caplang. Saya, Budi dan Dita adalah blogger yang sungguh beruntung saat itu. Berkat kontes tersebut, kami bertiga awalnya memang tidak saling mengenal, tapi jangan ditanya sekarang karena hubungan kami sudah cukup kental. Kopi kalee…

Gadis berkacamata yang juga berkerudung ini mengaku mempunyai hobi nonton film bersama movie freaks yang lain. Adalagi? Dita juga hobi mengkoleksi atau memiliki sesuatu yang berwarna pink. Mulai dari tema blog, mainan, alat tulis, tas, hingga asesoris atau pelengkap pakaian sehari-hari seperti kerudung atau sepatu. Biar tidak penasaran, langsung saja amati video “Indonesia Unite” yang disutradarai oleh Goenrock itu dimana Dita menempati urutan ketiga (sebelum Ndoro Kakung).

Hari ini nama Dita memang cukup populer di dunia maya. Kok bisa? Betapa tidak, Dita telah memiliki akun di hampir semua situs jejaring sosial yang sedang populer misalnya facebook, twitter, plurk hingga koprol. Dari keempatnya itu, Dita lebih sering main di Facebooknya. “Kalau di Facebook interaksinya lebih menyenangkan, bisa tag foto, bisa komen foto, bisa komen di status, bisa juga kirim mesej”, jelasnya.

Untuk urusan kopdar atau kopi darat pun sudah tak terhitung berapa jumlahnya, apalagi setelah menggabungkan diri di milis KoJak atau Kopdar Jakarta yang dikenal cukup gokil itu. Saya masih ingat betul kopdar pertama Dita bersama blogger adalah saat bulan puasa, hampir setahun yang lalu. Dan yang kedua adalah di Wetiga, saat diundang diskusi santai oleh Rama Mamuaya, empunya dailysocial[dot]net itu.

Kesibukan Dita sehari-hari selain kuliah adalah ngeblog. Dari kegiatan ngeblog itu Dita kemudian “diantarkan” menjadi kontributor di ngerumpi[dot]com. Dita sudah punya 10 tulisan lho yang dipajang disana. Lumayan ‘kan? Akunya, awal dia ikutan “ngerumpi” ini dikenalin langsung sama si mbok, Venus.

Cerita tentang facebook sudah, ngeblog sudah, kopdar sudah, menjadi kontributor juga sudah. Lalu apalagi? Menurut Dita, pengalaman yang paling berkesan selama bergaul di dunia maya adalah dia sekarang mempunyai teman yang luas. Dita mendapat teman baru yang secara latar belakang jauh berbeda dengan orang-orang yang tiap hari ditemuinya. Dia juga bisa tukar pikiran dari sudut pandang yang berbeda pula dan itu cukup menyenangkan baginya.

“Karena orang yang saya kenal kebetulan baik-baik, maka kita bisa saling membantu. Misalnya kita kesulitan sesuatu kita tinggal bilang atau tanya sama yang lebih ahli. Kalau ada yang mau nanya juga ya saya jawab sebisanya”, jelasnya singkat.

Dita beranggapan bergaul di dunia maya sama sekali tidak ada ruginya asalkan kita bisa memilih dan memilahnya. “Selain menambah teman juga menambah saudara”, tambahnya pada akhir wawancara saya dengan Dita.

Ikuti Kontes E-Narcism, Gaul dan Eksisnya si Teman di Internet, dan menangkan 6 buah iPod persembahan dari Bhinneka.com dan 24 t-shirt E-Narcism dari Grin Clothing.